NUTRISI HATI PENYUCI RUHANI Tentu para pembaca budiman sudah mengerti bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati; membentengi, mendidik, dan melindungi jiwa dari berbagai penyakit wajib dilakukan oleh setiap muslim; nutrisi jiwa lebih penting dibanding nutrisi fisik; dan menetapi pakaian takwa lebih baik daripada menyibukkan diri dan ...
| Harga | : | |
| Hemat | : | 0 % |
| Pengarang | : | DR. ANAS AHMAD KARZUN |
| Penerbit | : | Al Qowam |
| Berat | : | 200 gram |
Tentu para pembaca budiman sudah mengerti bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati; membentengi, mendidik, dan melindungi jiwa dari berbagai penyakit wajib dilakukan oleh setiap muslim; nutrisi jiwa lebih penting dibanding nutrisi fisik; dan menetapi pakaian takwa lebih baik daripada menyibukkan diri dan membanggakan pakaian fisik. Betapa kontras antara hal yang usang lagi musnah, dengan apa yang abadi sebagai simpanan Anda.
“Pada hari di mana harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang selamat.” (Asy-Syu‘aro [26]: 88-89)
Oleh karena itu, dari buku ini saya merasa perlu merangkum dan mengambil intisari dari beberapa tema yang menjelaskan rambu-rambu metode Islam dalam melindungi jiwa, serta menyembuhkannya dari berbagai penyakit dan virusnya. Juga meringkas berbagai metode praktis yang disyariatkan oleh Islam guna mewujudkan penyucian jiwa, penyembuhannya dari penyakit, kelapangan dada, dan makanan nutrisi jiwa. Yang demikian itu ditempuh dengan ilmu yang bermanfaat, amal sholih, muhasabah (instrospeksi diri), taubat, mujahadah (jihad melawan hawa nafsu), bergaul dengan orang-orang sholih, dan merenungkan fenomena segala ciptaan-Nya, serta bermacam ibadah mulia lainnya yang benar-benar merupakan pagar pelindung dan perisai kokoh untuk menjaga seorang muslim dari berbagai fitnah, rayuan, dan bahaya dominasi syahwat.
Betapa sangat bahagia bila seorang muslim hidup dengan jiwa yang suci bersih, dada yang lapang, dan perilaku yang lurus. Betapa sangat nyaman menikmati berkah kehidupan yang ada di balik lapangnya manhaj yang lurus ini, yang menjadi piranti hamba untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Karena itu, wahai pembaca budiman, implementasikanlah muatan lembaran-lembaran yang Anda baca ke dalam amal nyata kehidupan Anda, seraya memohon kepada Alloh yang Mahasuci, semoga Dia membimbing kita semua menuju apa yang dicintai dan diridhoi-Nya. Segala pujian hanya milik Alloh, Robb semesta alam.
Penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) laksana bangunan yang kokoh menjulang, yang berdiri di atas berbagai dasar dan fondasi. Ia membutuhkan banyak sarana dan karya agar berbagai tujuannya bisa terealisasi, dan buah hasilnya pun bisa terwujud. Pelaksanaan pembangunan ini terus berjalan; tidak pernah berhenti sampai mati, karena tazkiyatun nafs merupakan aktivitas yang berkesinambungan. Dan, upaya mengangkat jiwa untuk meraih kedudukan yang dekat dengan Alloh pun tidak ada batasnya. Dan, semua itu tidak keluar dari konteks kedudukan penghambaan diri kepada Alloh.
Oleh sebab itu, ibadah jualah jalan yang mengantarkan (hamba) menuju penyucian jiwa dan derajat takwa. Alloh telah menciptakan semua makhluk untuk beribadah kepada-Nya; dan mengutus para rosul untuk menyerukan pengesaan dan peribadahan kepada-Nya. Dia berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat [51]: 56)
Ibadah menurut pengertian umum mencakup seluruh perbuatan seseorang secara sukarela, baik perbuatan hati ataupun perilaku nyata. Ibadah juga bisa didefinisikan sebagai perbuatan sukarela hamba yang sejalan dengan tuntutan Dzat yang berhak disembah.
Ibnu Taimiyah mendefinisikannya melalui ucapannya, “Ibadah adalah nama yang mencakup segala yang dicintai dan diridhoi Alloh, berupa perkataan dan perbuatan, baik yang tidak nampak ataupun yang tampak.”
Adapun dari sudut pengertian secara khusus, ibadah adalah perbuatan-perbuatan tertentu yang dibebankan pada hamba untuk dilaksanakan. Inilah yang diistilahkan dengan syi‘ar ta‘abbudiyyah, seperti rukun-rukun Islam dan berbagai ibadah wajib lainnya. Ibadah merupakan amal perbuatan yang bertujuan untuk mengaktualisasikan kepatuhan kepada Al-Kholiq (Maha Pencipta) dan pendekatan diri kepada-Nya; serta menyatakan ketundukan total kepada-Nya.
Dari sini, ibadah menurut pengertian khusus mengandung makna tujuan dan sarana dalam satu waktu sekaligus. Dari satu sisi, ibadah adalah tujuan. Sebab, ia merupakan pendekatan diri dan ketaatan kepada Alloh, serta ketundukan amaliyah kepada-Nya. Namun dari sisi lain, ibadah juga merupakan sarana, dengan menilik pada kandungannya yang berupa realisasi dan deklarasi ketundukan kepada Alloh.
Imam Syathibi memfokuskan pada pengertian ini, seraya menjelaskan bahwa ibadah memiliki satu tujuan pokok (primer) dan beberapa tujuan tambahan (sekunder). Tujuan primernya adalah menghadapkan diri kepada Yang Maha Tunggal, Yang berhak disembah; dan mengesakan tujuan kepada-Nya dalam setiap keadaan. Hal itu disertai dengan tujuan beribadah untuk meraih kedudukan di akhirat.
Sedangkan di antara tujuan-tujuan sekunder dari ibadah adalah meraih kesholihan jiwa dan nilai keutamaan. Sholat misalnya, tujuan dasar pensyariatannya adalah tunduk kepada Alloh dengan semata-mata menghadapkan diri kepada-Nya. Selanjutnya, sholat memiliki beberapa tujuan sekunder, seperti mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, serta beristirahat dari beban-beban kehidupan dunia.
Jadi, sesungguhnya tujuan ibadah adalah menunaikan hak Alloh, tunduk di hadapan-Nya, menunjukkan kehinaan diri dan kebutuhan kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya, yang dengannya makhluk beribadah kepada-Nya. Inilah tujuan dari semua amal ibadah. Kemudian, barulah penyucian jiwa dan kelurusan budi perkerti muncul sebagai konsekuensi logis dari ibadah.
Dengan penjelasan ini, hilanglah kerancuan seputar permasalahan tujuan dan sarana. Maka, masalah tersebut bersifat relatif, artinya bahwa setiap sarana adalah tujuan bagi yang lain; dan setiap tujuan adalah sarana bagi yang lainnya. Sholat adalah target dan tujuan, yang sekaligus juga merupakan sarana untuk menyucikan jiwa dan membersihkan hati. Wudhu adalah sarana untuk memenuhi salah satu syarat keabsahan sholat, sebagaimana juga menjadi tujuan karena merupakan pelaksanaan perintah Alloh dalam mewujudkan kesucian dan kebersihan.
Yang mendorong kami untuk merinci hal ini adalah klaim-klaim bathil yang digembar-gemborkan oleh sebagian orang untuk menjustifikasi keberpalingan mereka dari ibadah-ibadah wajib; dan bermalas-malasan dalam menunaikannya. Mereka berdalih bahwa ibadah-ibadah tersebut hanya sekadar sarana untuk memperbaiki diri.
Sehingga, apabila perbaikan diri bisa dilakukan tanpa melakukan amal-amal wajib tersebut, maka tidak perlu lagi melaksanakannya. Tidak diragukan lagi bahwa jawaban tepat atas klaim-klaim mereka adalah bahwa Alloh telah memerintahkan Rosul-Nya untuk beribadah hingga ajal menjemput. Padahal, jiwa beliau yang mulia telah menyandang kesucian dan telah meraih derajat kesempurnaan yang tidak seorang manusia pun bisa menggapainya. Namun demikian, Alloh tetap memerintahkan beliau untuk beribadah melalui firman-Nya:
“Dan sembahlah Robbmu, sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini.” (Al-Hijr [15]: 99)
Maksud dari ‘yang diyakini’ adalah kematian. Orang yang mengklaim bahwa dirinya telah suci dan baik tanpa mengerjakan amalan-amalan wajib, seandainya ia tahu arti penyucian diri yang sebenarnya, pasti ia menyadari bahwa dirinya sarat dengan penyakit; dan sangat jauh dari substansi penyucian. Ia akan sadar bahwa jiwanya adalah jiwa yang selalu memerintahkan keburukan, jiwa yang menganggap baik tindak kemungkaran, dan jiwa yang menghalangi ketaatan.
Kita kembali ke pembahasan semula dengan mengatakan bahwa sesungguhnya ibadah memiliki tujuan pokok dan tujuan-tujuan lainnya yang merupakan sarana bagi ibadah lainnya. Sedangkan, sarana terbesar dalam ibadah adalah merealisasikan penyucian dan kebersihan jiwa; menyembuhkannya dari berbagai penyakit; serta meluruskan perilaku dan budi pekerti, sekalipun hukum ibadah-ibadah dan pengaruhnya dalam penyucian jiwa berbeda-beda. Semoga pembaca buku ini mengetahui kaitan erat antara ber bagai ibadah dan sarana-sarana syar‘iyyah praktis yang akan kami kemukakan dengan pengaruh besar yang diwujudkannya dalam menyucikan jiwa dan upaya membangun kepribadian islami yang paripurna.
HALAMAN: 358 Hlm.
Pencarian
Tentang bukulengkap.com
Bukulengkap.com adalah situs yang melayani penjualan buku - buku secara online. Apabila anda tidak memiliki waktu untuk membeli buku langsung ke toko - toko, disinilah tempatnya untuk berbelanja secara online. Secara bertahap, buku lengkap.com akan melakukan penambahan - penambahan koleksi buku - buku terbaik ...
- Selengkapnya -
Kategori
Event
Admin Online
Statistik | Online | : 1 |
| Hari ini | : 1 |
| Kemarin | : 4 |
| Total | : 4.403 |